Agama Cinta, Narasi Kasih yang Menyembuhkan Dunia

Jakarta (BMBPSDM)---Di tengah gemuruh konflik dan krisis kemanusiaan di Gaza, ada suara yang sering terabaikan. Bisikan lembut agama tentang cinta. Bukan cinta romantis, bukan pula cinta yang posesif, melainkan cinta ilahiah --sebuah kekuatan spiritual yang mengalir dalam jantung setiap tradisi agama. Inilah kisah tentang bagaimana agama, ketika dipahami sebagai jalan cinta, bisa menjadi pelita di tengah kegelapan.
Bayangkan Tuhan bukan sebagai hakim yang kejam, melainkan sebagai sang Pengasih yang tak pernah lelah mengampuni. Dalam Islam, 99 nama-Nya diawali dengan Ar-Rahman dan Ar-Rahim --sifat kasih sayang yang melingkupi semesta. Di gereja-gereja, Yesus mengajarkan, "Kasihilah musuhmu." (Matius 5:44). Dalam Bhagavad Gita, Krishna bersabda, "Orang yang mencintai-Ku dengan tulus tak akan pernah binasa."
Ini bukan sekadar doktrin, melainkan undangan untuk hidup dalam belas kasih. Ketika seorang pendosa bertobat, ketika seorang pendendam memaafkan, di situlah agama cinta menemukan bentuknya yang paling nyata.
Akhir Maret kemarin, di Bali, umat Islam bersiap menyambut lebaran dengan salat Id. Di sebelahnya, keluarga Hindu baru saja larut, khusuk dalam Nyepi. Dua tradisi yang berbeda, tapi benang merahnya jelas, penyucian diri.
Idulfitri mengajarkan bahwa manusia bisa kembali suci, seperti bayi yang baru lahir.
Nyepi mengajarkan keheningan, pengakuan dosa, dan harmoni dengan alam.
Bayangkan jika kedua momen ini tidak hanya dirayakan secara ritual, tapi juga menjadi gerakan nasional saling memaafkan. Sebuah hari di mana politikus berhenti berseteru, media mengurangi berita kebencian, dan masyarakat duduk bersama, merajut kembali persaudaraan yang sempat terkoyak.
Ketika Dunia Kehilangan Empati, Agama Cinta Hadir
Pemudik yang mengantre berjam-jam tiba-tiba disalip ambulans berisi pelancong, atau penipuan arisan yang menggerogoti tabungan warga jelang lebaran, adalah bukti krisis empati. Di saat seharusnya solidaritas menguat, yang terjadi justru aksi "semua untuk diri sendiri.”
Agama seharusnya menjadi penawar racun individualisme semacam ini. Dalam Islam, ada larangan keras "Barangsiapa menipu, bukan dari golongan kami" (HR Muslim). Ajaran Katolik juga mengingatkan: "Jika seseorang memiliki dua helai baju, berikanlah satu pada yang tak punya" (Lukas 3:11).
Ini bukan sekadar amal, melainkan revolusi cara pandang, bahwa setiap manusia adalah saudara, bahwa membantu orang lain adalah membantu diri sendiri.
Pohon sebagai sarana Ibadah, Sungai sebagai Kitab Suci
Hari gerakan satu juta pohon menjadi arena kebersamaan lintas sosial, budaya, politik bahkan agama. Para tokoh agama terlibat dalam gerakan ini. Mereka paham bahwa merusak alam adalah dosa.
Dalam Islam, Nabi Muhammad melarang menebang pohon tanpa alasan. Bahkan,andaipun besok kiamat, tanamlah pohon hari ini. Dalam Hindu, ada konsep "Nyegara Gunung"—laut dan gunung adalah bagian dari keseimbangan kosmis.
Dampak dari kerusakan lingkungan telah nyata. Banjir bandang melanda Bogor, Bekasi bahkan Karawang dipercaya akibat salah urus lingkungan. Kebijakan singkat Gubernur Jabar dari hulu ke hilir digelar. Hulu diperbaiki, lahan alih fungsi kembali dihijaukan. Hilir ditangani, sampah dan bangunan liar ditertibkan. Tapi itu belum cukup. Agama harus hadir dalam bentuk penyadaran, cintai alam sebagai manifestasi mencintai diri sendiri.
Gereja-gereja di Eropa kini gencar mengampanyekan "ekologi integral" sebagai
bagian dari iman. Agama cinta mengajarkan bahwa menjaga bumi adalah ibadah. Ketika pencemaran terjadi, ketika satwa punah, itu bukan hanya masalah lingkungan—itu krisis spiritual.
Khalifah di bumi, tugas suci manusia. Aktivitas petani tidak hanya menanam padi. Ia merawat tanah, memberi makan makhluk kecil di sekitarnya, dan mewariskan lahan subur untuk anak cucunya. Ia adalah khalifah sejati—pemimpin yang bertanggung jawab.
Inilah misi agama cinta. Melindungi yang lemah. Merawat yang rapuh. Memberi tanpa syarat. Bukan untuk pahala, bukan untuk surga, melainkan karena cinta adalah bahasa Tuhan.
Di sudut kota Bandung, ada masjid yang membuka dapurnya untuk semua agama. Di Bali, ada pura yang airnya mengalir dipakai untuk mengairi sawah warga. Di Menado ada gereja yang pastornya mengajak jemaatnya menjaga lingkungan. Merekalah pejuang agama cinta.
Mungkin dunia tidak akan berubah dalam semalam. Tapi selama masih ada orang yang percaya bahwa Tuhan adalah Cinta, maka harapan itu tetap hidup. Seperti kata Mahatma Gandhi, "Ketika aku mendengarkan suara hati, aku mendengar Tuhan."
Dan suara hati itu selalu berbicara tentang cinta.