Ekoteologi Suatu Pilihan

23 Mar 2025
Ekoteologi Suatu Pilihan
Muchammad Toha, Balai Diklat Keagamaan Semarang.

Jakarta (BMBPSDM)---Bencana alam terus terjadi di sekitar kita, mulai banjir bandang yang tidak saja menggelontor daerah pemukiman di lereng gunung pinggir hutan tapi terjadi pula di wilayah perkotaan metropolis sekalipun, sehingga air deras menenggelamkan perumahan elite, merendam, dan menghanyutkan mobil serta merusak peralatan mewah lainnya. Besarnya air bah itu sampai memporak-porandakan mall pusat perbelanjaan yang ada di kota besar. Bahkan beberapa tahun yang lalu banjir ini telah sampai di depan istana merdeka. Dan, andai saja lengah serta tidak sigap menjaga dan mengatur pintu air serta sistem drainase, maka banjir itu akan sampai juga memasuki istana.

 

Banjir bandang ini tidak jarang melahirkan trauma bagi masyarakat yang mengalaminya serta menjadi sumber penderitaan yang mengoyak kebahagiaan dalam keluarga, sebelum banjir masyarakat bisa leluasa menjalani hidupnya di dalam rumah kemudian berubah di atas atap menunggu bantuan para petugas tanggap bencana yang hadir dengan perahu karetnya. Para lansia renta dan penyandang keterbatasan dalam kesehatan harus dibopong menuju tempat pengungsian, karena banjir itu juga tidak jarang harus merenggut nyawa serta merusak milik kita yang merupakan hasil jerih payah dalam bekerja.

 

Sebenarnya bencana banjir hanya salah satunya karena bencana lainnya juga beberapa waktu lalu terjadi dan belum hilang dalam ingatan kita, seperti kebakaran hutan yang penanganannya diperlukan waktu cukup panjang serta menghalangi aktivitas harian kita karena harus berada di dalam rumah serta berbahaya bagi pengguna jalan karena asap yang memperpendek jarak pandang kita. Begitu juga dengan derita penyakit ispa yang harus dirasakan masyarakat sebagai efek kebakaran hutan itu.

 

Bencana tidak cukup di situ saja, karena tanah longsor juga masih sering terjadi yang mengakibatkan jalan di lereng gunung terputus karena timbunan batu dan tanah. Kampung dan penghuninya musnah dari hitungan cacah jiwa karena terkubur matrial longsoran yang sangat besar jumlahnya. Bencana lainnya adalah kerusakan laut akibat pencemaran karena pembuangan limbah yang semena-mena yang pada akhirnya memberikan dampak buruk bagi masyarakatnya.

 

Bertolak dari fakta negatif yang timbul karena bencana, sedangkan munculnya bencana karena kesalahan manusia dalam memperlakukan dan mengatur alam lingkungan padahal manusia dan alam lingkungan sama-sama ciptaan Tuhan yang menjadi satu kesatuan dalam siklus kehidupan, maka tata cara membangun keseimbangan untuk melanggengkan kehidupan harus dipahami dan selaras dengan perintah Tuhan, sehingga memahami perintah Tuhan melalui ajaran agama bagaimana seharusnya manusia mengatur dan memanfaatkan alam mutlak diperlukan.

 

Sebagai insan beriman dan manusia religius eloknya agama bukan hanya dipahami sebagai urusan langit dan hanya untuk menggapai kebahagiaan di hari kemudian saja,  tetapi juga sebagai urusan bumi yang memberikan kebaikan dan kebahagiaan kini, sehingga kehadiran "Ekoteologi" adalah pilihan tepat untuk menyelamatkan kehidupan, sebagaimana dalam untaian do'a "Robbana atina fid dunya hasanah wafil akhiroti hasanah waqina adzaban nar" (Ya Tuhan kami berikanlah kami kebaikan di dunia dan akhirat dan lindungilah kami dari siksa neraka), yakni karena tidak baik dan tidak paham dalam mengatur alam menimbulkan kenistaan dan kesengsaraan dalam kehidupan yang dalam sesanti Jawa, "Memayu hayuning bawana" (memperindah dunia) atau upaya memperindah dunia dengan keramahan lingkungannya.

 

Ekoteologi atau ecotheology adalah konsep beragama yang mendekatkan penganutnya dengan alam lingkungan dengan maksud untuk lebih memahami hubungan positif timbal balik. Maka, dalam hal ini ada yang menyebut dengan teologi lingkungan. Dalam penjelasan singkat hubungan teologi dan ekologi adalah karena alam lingkungan ini ciptaan Tuhan maka dengan merusak dan mengabaikan alam lingkungan berarti satu bentuk ketidakpatuhan terhadap perintah Tuhan.

 

Dalam ajaran Islam, mengenal adanya tiga hubungan, "Hablun minallah, hablun minannas, hablun minal alam", (hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan manusia, hubungan dengan alam). Ringkasnya, sebagai muslim yang baik maka harus menyadari dirinya adalah seorang abdi (hamba) yang lemah maka harus ibadah dengan baik sebagai bentuk pengabdian pada Penciptanya Lalu, manusia sebagai makhluk ciptaan harus menjalin hubungan yang baik antar sesamanya sehingga terbangun kesalehan sosial sebagai cara untuk meraih hidup bersama yang bermarwah dan sejahtera Selanjutnya, karena manusia adalah bagian dari alam semesta maka wajib untuk menjaga hubungan baik dengan alam lingkungannya, bahkan dijelaskan dalam surat al-Baqarah ayat 30, "Inni jailun fil ardhi khalifah” (Sesungguhnya Aku menjadikan manusia sebagai khalifah, sebagaimana dalam pesan luhur Jawa, "Mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi" (Mencerahkan budi, menghilangkan perusak bumi).

 

Dalam Agama Hindu, dikenalkan dengan Tri Hita Karana (Tiga Penyebab Kebahagiaan). Tiga unsur itu antara lain: pertama, parahyangan: hubungan harmonis dengan Tuhan dan segala hal yang berkorelasi dengan keagamaan. Kedua, pawongan: hubungan harmonis dengan sesama manusia yang berupa jalinan keluarga, persahabatan dan pekerjaan. Ketiga, palemahan: hubungan harmonis dengan alam atau lingkungannya yang meliputi tumbuhan, binatang, dan hal-hal lain.

 

Dalam ajaran Hindu, untuk meraih kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia, membangun hubungan baik manusia dengan Penciptanya dan sesamanya saja, masih belum cukup bila belum terbangun hubungan dengan alam lingkungannya. Dalam ajaran Hindu dikenal pula dengan "tat twam asih" (itu adalah aku), itu (alam dan lingkungan sekitar) adalah diriku. Maka, ketika alam terganggu maka dirinya akan terganggu, berikutnya ketika alam dan lingkungan ini rusak maka kehidupan ini juga akan rusak.

 

Dalam agama Budha, sangat populer dengan, "Sabbe satta bhavantu sukhitatta". (semoga semua makhluk berbahagia). Kalimat yang berasal dari bahasa Pali memberikan tuntunan bahwa kebahagiaan hendaknya dimiliki oleh semua makhluk yang ada di jagat ini. Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu melakukan amal kebaikan secara rutin pada semua makhluk di sekitar kita, baik manusia, tumbuhan maupun hewan.

 

Untuk mewujudkan semua makhluk berbahagia tentunya tidak ada perbuatan yang mengganggu kehidupan bersama serta tidak ada perbuatan yang merusak harmoni alam lingkungan karena perilaku disharmoni itu akan kembali pada manusia. Dan, itulah yang dikenal dengan karma phala, karma artinya perbuatan atau aksi. Sedangkan phala artinya buah atau hasil, sehingga apa yang dirasakan adalah hasil dari apa yang telah dilakukan. Ketika alam murka, air tidak lagi ramah berarti ada yang salah pada diri kita dalam mengatur hubungan kita dengan alam lingkungan kita dan dalam ungkapan Jawa dikenal dengan ngunduh wohing pakerti atau sapa nandur bakal ngunduh (siapa menanam akan memanen).

 

Dalam agama Kristen, kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari panggilan iman dalam bentuk yang lebih luas yakni mengasihi dengan segenap hati antar sesama dan semua ciptaan Tuhan. Bahkan ekoteologi dalam agama Kristen merupakan bagian dari ilmu etika sosial Kristen. Ilmu ini mengeksplorasi pemahaman Kristen tentang alam semesta dan penciptaan dan lebih khusus lagi memahamkan tentang tanggung jawab umat Kristen dalam menjaga lingkungan, sehingga untuk hal ini juga sering dikenal dengan teologi lingkungan.

 

Dalam Mazmur 24:1, dikatakanbahwa "bumi adalah milik Tuhan dengan segala isinya, dunia dan semua yang ada di dalamnya.” Adanya Kesadaran tentang alam semesta ciptaan serta milik Tuhan, maka umat Kristen harus menjaga dan menghormati dengan penuh rasa syukur, sehingga cinta dan menjaga alam dan lingkungan adalah sebagai wujud keimanan.

 

Dalam agama Katolik, tentang ekoteologi yaitu landasan iman Katolik yang menjadi dasar prinsip merawat bumi sebagai rumah bersama, bahkan kepedulian tinggi Gereja Katolik dalam menjaga, memperbaiki, melindungi serta melestarikan alam lingkungan ciptaan Tuhan selalu digencarkan dan menjadi seruan yang harus benar-benar diperhatikan dan ditaati.

 

Seruan itu diwujudkan melalui Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di tahun 2012 dengan tema "Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan", sedangkan dalam penutup dari Nota Pastotal  tersebut dinyatakan bahwa umat Katolik dipanggil untuk menjadi rekan Tuhan dalam meningkatkan usaha menjaga dan melestarikan keutuhan ciptaan Tuhan dari berbagai ancaman kerusakan.

 

Dalam agama Konghucu, dikenal adanya dimensi spiritual harmoni dengan alam yang mengakui sepenuhnya bahwa manusia terikat erat dengan bumi, tubuh, keluarga dan komunitas serta sangat meyakini tentang keselarasan manusia dengan tatanan kosmis. Hal ini dapat dilihat dari adanya prinsip feng-shui (angin dan air) yang menyatukan manusia dengan lingkungan melalui kedekatan dengan alam lingkungan. Bahkan ajaran Nabi Kongzi menjelaskan bahwa tentang bakti juga menekankan pentingnya sikap untuk tidak semena-mena dengan alam.

 

Selain itu, juga adanya istilah manusia menaklukkan alam adalah sebuah kesombongan karena pada hakikatnya manusia tidak mampu menaklukkan alam, namun menghargai peran alam bagi manusia sehingga mengantarkan sampai pada pencapaian yang lebih tinggi. Dengan demikian, manusia dengan alam terbangun suatu harmoni dalam kehidupan, maka bukan menaklukkan tapi membangun hubungan mutualitas tentang kesadaran bekerjasama, menghargai, dan mempengaruhi secara positif.

 

Akhirnya , harus diakui ekoteologi benar-benar akan menjadi harapan untuk penyelamatan alam lingkungan dan kelangsungan hidup maslahah dan berkeadaban di tengah kemajemukan umat manusia yang berketuhanan. Sselain itu, juga cara inilah yang kiranya dapat mengurangi keserakahan para penghuni bumi ini yang terus menerus mengeksploitasinya tanpa perhitungan dan pertimbangan sehingga merusak kehidupan sebagai efek dari disharmoni manusia dengan alam lingkungan. 

 

 

 

             

Penulis: Muchammad Toha
Sumber: Muchammad Toha
Editor: Abas
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI