Top
    sisinfobalitbangdiklat@kemenag.go.id
(021) 3920663, 3920668
SUKSES = DUIT (DOA, USAHA/IKHTIAR, TAWAKKAL)

SUKSES = DUIT (DOA, USAHA/IKHTIAR, TAWAKKAL)

Jumat, 29 Januari 2021
Kategori : Opini
2844 kali dibaca

Nurul Qolbi Izazy, CPNS Balitbang Diklat, Ahli Pertama Peneliti

 

“There are no secrets to success. It is the result of preparation, hardwork, and learning from failure.”

_Colin Powell_

 

“Kamu serius mau ikut CPNS? Mau ambil formasi apa? Instansi apa? alasannya apa?” tanya suamiku, ketika aku mengutarakan niatku untuk mengikuti seleksi CPNS untuk kedua kalinya.

“InsyaAllah ambil formasi peneliti Balitbang Diklat Kemenag.”

“Alasan pertama, aku pernah bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga penelitian milik universitas. Kedua, profesi peneliti adalah profesi yang sangat menjanjikan pengembangan diri, kesempatanku untuk ‘sekolah lagi’ terbuka lebar,” jawabku mantap.

Suamiku mengangguk dan lanjut berkata.

“Berarti sekarang kamu harus bikin analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Treats), biar tahu apa yang harus diperbaiki, dan dipersiapkan. Jangan lupa banyak doa di waktu mustajabah.”

Aku hanya mengangguk paham. Iya, suamiku adalah orang yang sangat strategic dan prepare. Aku menjadi terbiasa dengan kebiasaan-kebiasan baik itu. Aku pun langsung mengambil kertas dan bolpen. Kutuliskan analisis SWOT -ku.

Kutunjukan hasil analisis tersebut, dia hanya mengangguk dan langsung menambahkan tulisan:

Don’t Forget to Pray, Hardwork, and Tawakkal!

Memang kuyakini untuk mencapai apa yang kita inginkan selalu ada kerja keras dan doa di dalamnya, setelah itu barulah bertawakkal atas apapun keputusan Allah.

Setelah diskusi dengan suamiku, Bismillah aku pun mulai mempersiapkan berkas-berkas dan mendaftarkan diri di akun SCCN. Formasi yang kudaftar adalah formasi peneliti Puslitbang Kemenag dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Lowongan yang dibuka hanya untuk dua orang.

Setelah mendaftarkan diri, aku mulai masif mencari informasi dan mengikuti semua jejaring sosial milik BKN, Kementerian Agama, dan satker yang kulamar: Balitbang Diklat. Suamiku juga ikut membantu mencarikan channel telegram terkait penerimaan CPNS 2019 Kementerian Agama.

Alhamdulillah, dari channel itu aku juga bisa menambah pertemanan dengan sesama pejuang NIP.

Setelah pengumuman seleksi administrasi dan dinyatakan lulus. Aku pun mempersiapkan diri untuk Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Kuikuti beberapa bimbingan belajar online, dan beberapa kanal Youtube yang mengupas informasi dan soal-soal CPNS, aku juga membeli buku-buku kumpulan CPNS dan pembahasannya. Selain itu, aku mengatur waktu khusus saat malam hari untuk mempelajari soal-soal CPNS. Sejujurnya bukan hal yang mudah membagi waktu untuk belajar. Maklum saja, aku seorang ibu bekerja dengan dua orang balita yang masih harus didampingi tumbuh kembangnya. Bahkan terkadang aku harus belajar di kantor saat pekerjaan sudah sengang. Memang melelahkan, but I enjoy it!

Beberapa teman yang sering melihatku belajar, sempat berucap.

“Rajin banget sih, CPNS mah dibawa santai aja kali. Kan ada faktor keberuntungan juga.”

Aku hanya tersenyum walaupun dalam hati bergumam: That’s totally wrong! 

Let me tell you, there is no luck! Even Einstein told that “genius is 99% workhard, and 1% luck!”

Aku percaya Allah ngga akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya, kalaupun nantinya usahaku belum membuahkan hasil, itu artinya usahaku memang perlu dievaluasi, atau memang menurut Allah menjadi PNS bukan yang terbaik untukku.

“Barangkali kamu membenci sesuatu hal padahal itu terbaik untukmu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat sangat buruk untukmu. Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” QS. 2:216

 

Tibalah waktu ujian kompetensi dasar. Aku mendapat lokasi ujian di BKN Jakarta Timur. Alhamdulillah suami ikut mengantar, dan memberi support dari ruang tunggu. Sejujurnya aku merasa persiapanku belum maksimal, karena waktu belajarku belum banyak dan efektif. Tapi Bismillah, semoga perjuangan ini tidak sia-sia dan bernilai ibadah. Setelah selesai ujian aku mulai down, melihat nilai-nilai peserta lain yang mencapai 400an. Waw!.

Saat down itu Alhamdulillah suamiku menguatkan,

“Yang nilainya tinggi bukan dari formasi kamu. Banyak yang formasi statistisi. Wajar aja, mereka pasti tinggi di TIU karena jurusan matematika.”

Akupun hanya berharap dalam hati, yaa mudah-mudahan saja yaa. Walaupun aku juga tidak berharap banyak.

Selama proses seleksi CPNS selalu kuselipkan doa di waktu mustajabah, seperti di waktu hujan, dalam perjalanan, di setiap sujud terakhir, sore hari di hari Jumat, sore hari sehabis berbuka puasa, serta ketika berbuka di hari Arafah. Tidak lupa kupinta orang tua dan mertuaku melalui whatsapp agar memanjatkan doa untukku.

Mi, Abi, Jumat sore adalah waktu yang mustajabah, doa-doa yang dipanjatkan insyaAllah diijabah oleh Allah. Karena itu Ananda mohon do’a agar diberikan kesuksesan dalam menempuh seleksi CPNS 2019’. begitu kiranya isi pesanku.

Sejujurnya aku adalah orang yang selalu mengandalkan doa dan usaha. Bagiku dua hal ini merupakan kunci menuju mimpi-mimpi yang selalu kutuliskan dalam catatan harianku. Karena itu apapun yang terjadi, aku tidak pernah absen berdoa.

Sampai ketika pengumuman Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) tiba, Qadarullah aku lulus ke tahap Seleksi Komptensi Bidang (SKB) walaupun hanya dapat ranking 5. Aku tetap optimis kala itu. Bismillah aku akan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.

Aku mulai menyusun strategi, menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan saat praktek kerja, dan wawancara. Awalnya aku sempat overthinking terkait praktik kerja, kupikir harus melakukan presentasi hasil penelitian. Jadi kusiapkan prezi tentang penelitian thesisku. Aku juga sempat berdiskusi dengan partner kerjaku di lembaga penelitian dulu tentang teknis penelitian dari A sampai Z. Untuk sekedar mengingat kembali saja. Aku juga sempat membuat catatan tetang ayat-ayat yang kemungkinan akan ditanyakan saat wawancara

Sayangnya pelaksanaan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) sempat ditunda untuk waktu yang lumayan lama. But, it’s okay! Aku jadi bisa mempersiapkan diriku lebih matang, aku juga bisa memperbanyak doa-doa.

 

D-day has come! SKB yang dinantikan sudah terjadwalkan. Alhamdulillah lokasi ujianku tidak jauh dari kantor. Hanya lima menit. Jadi aku tidak perlu cuti. Cukup izin sebentar dan aku bisa kembali bekerja lagi. Ditambah lagi lokasi ujianku adalah sekolahku sendiri, MAN 3 Jakarta. Harapanku bisa bertemu dengan guru-guru sekaligus meminta doa restu agar dimudahkan dalam ujian dan memperoleh keberhasilan di seleksi CPNS 2019 ini. Namun sayangnya karena masa pandemi guru-guru banyak yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh, dan aku hanya bisa bertemu dengan guru yang piket pada hari itu. Okelah! Setidaknya ada guru yang mendoakan.

SKB Kemenag sendiri dilaksanakan tiga hari. Hari pertama praktik kerja, kedua psikotes serentak seluruh Indonesia, dan ketiga wawancara. Ujiannya pun melalui zoom, dan peserta sendirilah yang harus menyiapkan perlengkapannya masing-masing. Mulai dari laptop hingga kuota. Mungkin ini yang harus menjadi evaluasi, karena mungkin ada beberapa peserta yang tidak memiliki perlengkapan yang memadai.

Hari pertama ujian SKB Alhamdulillah lancar tanpa kendala. Di lokasi pun aku didampingi oleh pegawai Balitbang Kemenag RI yang baik hati, walaupun lupa siapa namanya, hehehe. Pertanyaan yang diujikan pun tidak sesulit yang aku persiapkan. Benar-benar sekitar penelitian walaupun sepanjang pertanyaan yang diajukan kepadaku menggunakan bahasa Arab atau bahasa Inggris. Pertanyaan penguji kujawab sebisanya, tapi aku yakin jawabanku dimengerti oleh tim penilai dan aku sangat yakin jawabanku sesuai dengan substansi.

Hari kedua SKB adalah ujian psikotes. Sebenarnya ujian psikotes sudah sering kujalani, aku pun sebenarnya sudah siap dengan ujian psikotes. Namun hari itu ternyata berlangsung chaos. Server down.  Aku mengalami kendala server, untuk menyimpan satu jawaban butuh waktu lima menit. Sangat menguras waktu dan emosi. Ujianku pun tidak maksimal, beruntungnya ternyata ujian psikotesnya diulang dan rechedule. Alhamdulillah aku jadi bisa mempersiapkan lebih matang.

Hari ketiga SKB adalah wawancara. Sebelumnya aku sudah mempersiapkan banyak jawaban terkait moderasi beragama, toleransi serta rasa cinta tanah air yang kemudian aku relasikan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Aku juga mempersiapkan doa-doa yang kemungkinan keluar. Aku bahkan menghafalkan doa salat hajat. Walaupun jujur saja selama ini aku tidak pernah melaksanakan salat hajat. Kalaupun menginginkan sesuatu aku lebih senang bermunajat melalui salat Qiyamulail, doanya pun biasanya menggunakan Bahasa Indonesia. Ternyata doa yang ditanyakan kepadaku, doa sehari-hari yang sudah kuhapal dari kecil. Yaa,, positifnya aku jadi tahu doa salat hajat.

Setelah ujian SKB selesai aku mulai mengevaluasi dan menghitung peluangku untuk lulus CPNS 2019. Sejujurnya aku optimis, tapi aku juga tidak mau over-confident. Karena aku yakin ada campur tangan Allah dalam setiap peristiwa di muka bumi ini. Karena itu doa tidak putus kupanjatkan kepada-Nya agar disukseskan dalam CPNS 2019. Selama masa penantian aku menghabiskan waktu untuk mengikuti info-info dari akun instagram Balitbang Diklat. Menurutku akun instagram @balitbangdiklat Balitbang Diklat sangat komunikatif, seru, dan asik. Benar-benar mencerminkan instansi pemerintah yang milenial dan moderat.

Hari pengumuman kelulusan tiba. Tepat pada tanggal 30 Oktober 2020 sore. Saat itu aku dalam perjalanan pulang dari Magelang, tempat mertuaku tinggal. Teman-teman di grup Telegram sudah ramai membagi info tentang kelulusan. Tidak mau ketinggalan, aku juga mulai download pengumuman kelulusan, walaupun akhirnya gagal karena sinyal di perjalanan tidak stabil. Akhirnya aku meminta tolong salah satu temanku untuk mencarikan namaku.

“Waaah, selamat Mbak. Lulus. Peringkat kedua,” chat temanku.

Alhamdulillah, ucapku dalam hati seraya menghela napas.

“Gimana? Ngga lulus yaa? Kok ngehela napas,” suamiku yang sedang fokus mengemudi di sebelahku penasaran dengan pengumuman kelulusan.

“Alhamdulillah lulus,” jawabku.

“Alhamdulillah, dua anugrah dalam satu hari ya,” ujar suamiku.

Aku hanya tersenyum. Dalam hati tak henti kubersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepadaku dan keluargaku. Sebenarnya pagi hari sebelum pengumuman kelulusan CPNS aku tes kehamilan dan hasilnya positif. Boleh dibilang ini adalah kehamilan yang tidak direncanakan, aku belum siap mengandung anak ketiga. Ternyata Allah punya rencana lain, rencana yang indah dan InsyaAllah ini yang terbaik untukku.

Kuingat-ingat kembali perjuanganku dari awal sampai saat ini. Sampai saat aku mendapatkan SK CPNS 2019. Waw, it almost a year! Honestly it’s really exhausting. But worth it!

Perjalanan melelahkan ini kujalani dengan DUIT. Doa pada waktu-waktu mustajabah, berusaha atau ikhtiar membuat strategi dan belajar dengan maksimal, serta bertawakkal, berserah diri kepada apapun keputusan Allah. Seperti kata orang tua:

usaha tanpa doa=sombong

doa tanpa usaha=bohong

Sejujurnya ini bukanlah akhir dari mimpiku, tapi ini adalah awal untuk menggapai mimpi. Aku masih harus berjuang seridaknya setahun lagi untuk menjadi 100% abdi negara. Masih harus berjuang kembali untuk meraih mimpi-mimpiku selanjutnya. Bismillah, aku memulai segala sesuatu agar Allah menjadikan perjuanganku sebagai ibadah.

Untuk para pejuang NIP lainnya, tetap semangat! Jangan pernah menyerah, jangan pernah merasa gagal. Tetap berikan pikiran positif dalam diri and break your limit!

If you think you can, you can

If you think you can’t, you’re right!

_Marry Kay Ash_

 

 


Sumber :

Penulis : Nurul Qolby Izaty

Editor : Dewindah

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP