Tutup Pelatihan Penggerak Moderasi Beragama, Sekjen Kemenag Sampaikan Pesan Perdamaian

20 Jul 2024
Tutup Pelatihan Penggerak Moderasi Beragama, Sekjen Kemenag Sampaikan Pesan Perdamaian
ekretaris Jenderal Kementerian Agama Ali Ramdani menutup Pelatihan Penggerak Moderasi Beragama Angkatan V dan VI di Balai Diklat Keagamaan Bandung, Sabtu (20/7/2024).

Bandung (Balitbang Diklat)--- Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Ali Ramdani menutup Pelatihan Penggerak Moderasi Beragama Angkatan V dan VI di Balai Diklat Keagamaan Bandung. Ia mengulas pentingnya moderasi beragama di Indonesia yang multireligius sebagai landasan kehidupan yang harmonis dan damai.

 

“Moderasi beragama adalah landasan kehidupan harmonis di Indonesia yang multireligius. Kondisi ini pada akhirnya akan bermuara pada tumbuhnya pembangunan politik dan ekonomi yang lebih stabil,” ujar Ali di Bandung, Sabtu (20/7/2024).

 

Menurut Ali, hal tersebut berkaca dari negara-negara lain yang sampai detik ini masih berkutat dengan persoalan segregasi di tengah mereka. Suriah cukup menjadi cermin bahwa konflik sosial keagamaan tidaklah kontributif pada keutuhan dan pembangunan bangsa dan negara.

 

Mengutip dari buku Only the Paranoid Survive karya Andrew S. Grove, Ali juga mengingatkan bahwa jika mampu mengambil sisi positif dari situasi yang cenderung melahirkan kekhawatiran, kecemasan, bahkan ketakutan; niscaya akan memberikan energi untuk mampu bertahan dan berkreasi inovasi agar tetap eksis berselancar di tengah dinamika tantangan yang ada.

 

“Meski demikian, semua itu perlu perencanaan baik yang fokus pada hal-hal penting,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, Ali memaparkan kaitannya dengan Indonesia adalah penting untuk merawat kerukunan dan kehidupan yang harmonis di tengah kebhinnekaan.  Dia menunjukkan pengalaman Ethopia yang telah menjadi salah satu negera dengan tingkat ekonomi paling bagus setelah mereka mampu menyelesaikan urusan di dalam negerinya.

 

“Oleh karena itu, kita perlu membangun komposisi yang seimbang di tengah mozaik keragaman iman, suku bangsa, budaya, dan pelbagai kearifan lokal yang ada di nusantara,” imbaunya.

 

Guru Besar UIN Bandung ini pun mengingatkan pentingnya moderasi beragama sebagai landasan dalam menjalankan nilai-nilai keagamaan di ruang publik. “Moderasi beragama akan terjadi pada mereka yang memahami agama secara komprehensif,” tuturnya.

 

Pada kesempatan itu, Ali mengungkapkan bahwa dalam perspektif Islam, memiliki misi dakwah yang harus berorientasi pada upaya menyebarkan nilai-nilai kebaikan dalam koridor yang baik dan benar, dengan cara-cara yang tidak melanggar hukum.

 

“Moderasi beragama itu berbeda dengan moderasi agama. Karena itu, moderasi beragama tentu saja bukan pendangkalan agama atau akidah yang selama ini cukup sering dituduhkan oleh pihak-pihak tertentu,” paparnya.

 

Dalam moderasi beragama justru terhimpun semangat untuk semakin memperluas wawasan keagamaan, serta mempertajam aksi solidaritas sosial keagamaan yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. “Ingat salah satu quotes bahwa jika engkau bukan saudara seiman, maka kita bersaudara dalam kemanusiaan,” ucapnya.

 

Karena itu, Ali juga mengungkapkan bahwa di antara takaran moderasi beragama adalah menolak kekerasan, toleran, komitmen kebangsaan, penghormatan terhadap budaya lokal. “Penghormatan terhadap budaya lokal itu penting, contohnya penggunaan kopiah. Tidak sopan kalau ke pesantren tidak pakai kopiah,” pungkasnya.

 

Hadir dalam kegiatan penutupan ini, Kepala Balai Diklat Keagamaan Bandung Agus Nasihatul Ahyar didampingi oleh Kasubbag TU Balai Diklat Keagamaan Bandung Heri Susanto.

 

Dalam laporannya, Agus menyampaikan bahwa Pelatihan PPMB Angkatan V dan VI untuk tenaga administrasi ini merupakan rangkaian layanan pelatihan klasikal di kampus yang terakhir.

 

“Kami berharap melalui layanan pelatihan PPMB ini menjadi bagian penting dalam mengawal program prioritas pemerintah. Selain itu, pelatiha ini sebagai ikhtiar menjaga keharmonisan di tengah bangsa Indonesia melalui kader-kader penggerak moderasi beragama yang terlatih dan kompeten,” tutupnya.

 

(Firman Nugraha/diad)

Penulis: Firman Nugraha
Sumber: BDK Bandung
Editor: Dewi Indah Ayu/Sri Hendriani
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI