Medan dan Riau: Satu Ikatan dalam Diaspora Ajaran ‘Abd al-Samad al-Palimbani

12 Okt 2020
Medan dan Riau: Satu Ikatan dalam Diaspora Ajaran ‘Abd al-Samad al-Palimbani
Foto: google

Ratib berzikir merupakan cara yang disenangi kaum tarekat dalam melakukan taqarrub kepada Allah. Demikian yang dilakukan oleh kaum Tarikat Sammaniyah dan Naqsyabandi di wilayah Sumatera Utara dan Riau, sehingga menampilkan tradisi khas untuk Ratib Saman yang dikenal dengan sebagai “Ratib Tagak”. Monumen “Ratib Tagak” juga ditemukan di Rokan Hulu, Riau.

Temuan penelitian yang dilakukan bersama tim di wilayah Sumatera Utara menunjukkan bahwa terdapat penggabungan antara Tarekat Saman dan Tarekat Naqsyabandiyah. Sebut saja Kampung Besilam, Langkat, Sumatera Utara, mereka melaksanakan Ratib Samman pada malam Selasa dengan diawali tawajjuh yang merupakan bagian bentuk zikir Samman di Naqsyabandiyah. Tentu mereka punya alasan mengapa zikir dilaksanakan pada malam Selasa tidak pada malam Jumat. Menurut Tuan Guru sebagai mursyid Tarekat Naqsyabandiyah yang peneliti temui dan wawancara bahwa hari Selasa adalah hari yang diturunkan bala. Hal ini disebutkan dalam kitab Ilmu Tujuh Rahasia.  Sementara pembacaan kitab Sirrussalikin, yaitu kitab yang ditulis oleh ‘Abd al-Samad al-Palimbani dilaksanakan pada malam Senin setelah melaksanakan salat magrib. Selain itu, kitab yang dipakai untuk mengajarkan pengikut Tarekat Samaniyah adalah kitab Thabit al-Qulub yang ditulis oleh ‘Abd al-Qadim Belubus, Sumatera Barat.

Selain Kampung Basilam, Langkat terdapat kelompok Tarekat Samaniyah yang masih berkembang saat ini di Kota Medan, Deli Serdang dan Tebing Tinggi. Kelompok ini masih aktif melaksanakan Tarekat Samaniyah dan dengan merujuk silsilah dan amalan kepada Syaykh di Belubus. Pelaksanaan ratib / zikir agak berbeda dengan Kampung Besilam, mereka lebih cenderung melakukannya dengan duduk dan masih tetap dengan suara zahar.

Praktek Ratib Samman dalam masyarakat di Asahan tidak hanya menjadi bagian dari ritual kelompok tarekat saja, tetapi lebih dari pada itu Ratib Samman telah mengalami akulturasi dengan budaya lokal masyarakat, sehingga Ratib Samman telah menjadi “ratib publik” yang boleh diikuti siapa saja tanpa terkecuali, walaupun tidak bagian dari pengamal tarekat. Ratib Samman dilaksanakan dalam momen keagamaan, seperti Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), seperti Isra’ Mi‘raj, Maulid Nabi, Satu Muharram, dan lainnya. Ratib Samman yang dikenal masyarakat di Asahan justru tidak melalui Tarekat Sammaniyah, melainkan lewat Tarekat Naqsyabandiyah yang berkembang di masyarakatnya. Diterimanya Ratib Samman sebagai “ratib publik” memperlihatkan bahwa masyarakat Asahan sebagai masyarakat yang mengakomodir tarekat sebagai referensi spiritual. 

Temuan penting lainnya adalah ratib Samman juga menjadi bagian dari kearifan lokal bagi masyarakat, terutama kelompok masyarakat tradisional dalam merespon segala hal yang terjadi dan berlangsung, termasuk musibah yang akan terjadi. Pada masyarakat Asahan ditemukan bahwa Ratib Samman telah menjadi kearifan lokal dalam menghindarkan segala hal yang buruk dan mendatangkan yang baik, seperti dalam acara pindahan rumah baru, turun ke sawah, membuka usaha, dan lainnya. Ratib Samman dijadikan sebagai bagian dari “ritual publik” yang dilaksanakan untuk mendatangkan kebaikan bagi masyarakat.

Di tempat lain, tepatnya di Tebing Tinggi merupakan salah daerah tempat berkembangnya Tarekat Samman. Tarekat Samman dibawa dan dikembangkan oleh Syakh Barigin yang berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Saat sekarang Tarekat Samman dipimpin oleh generasi ketiga, yang tetap menjaga dan mempertahankan doktrin dan ritual Tarekat Samman. Dalam upaya melanjutkan tradisi Tarekat Samman dilaksanakan suluk 40 hari dengan ketentuan 20 hari dan 20 hari. Pelaksanaan suluk biasanya dilaksanakan pada bulan Safar dan Ramadan. Aktivitas dalam suluk yang disebut dengan isitilah lokal “Basaman” di antaranya mengamalkan ratib dan zikir khas Samman. Saat ini tercatat ada lebih kurang 1000 orang jamaah yang aktif dalam tarekat dan pengajian Saman yang dilaksanakan diberbagai tempat, seperti Medan, Deli Serdang, Siantar, dan lainnya.

Di Provinsi Riau, pengaruh Saman masih terlihat dalam praktek tarekat Naqsabandiyah. Hal ini dapat disaksikan dalam dua hal. Pertama, pengamalan ratib saman di praktekkan hampir pada seluruh surau, sedangkan ratib saman dengan pola berdiri atau disebut ratib tagak masih dijumpai di beberapa surau suluk. Kedua sumber bacaan. Umumnya tarikat Naqsabandiyah yang berafiliasi dengan Besilam, Langkat, Medan, menggunakan kitab karangan Al-Palimbani sebagai bahan bacaan. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa pengaruh Saman ke dalam tarikat Naqsyabandiyah di Riau melalui Syekh Abdus samad Al Palimbani.

Temuan lainnya, ritual Ratib Samman dilakukan dengan cara duduk hingga berdiri sambil membaca “La Ilaha Illa Allah”. Pembacaan zikir juga dilakukan dengan suara lembut hingga keras sebagai proses internalisasi zikir ke dalam diri hingga puncaknya akan “hilang diri sendiri”. Kelompok masyarakat yang terlibat aktif dalam Tarekat Samman ini umumnya kelompok petani, nelayan, buruh, dan lainnya. Tarekat Samman sebagai bentuk tarekat yang dimininati kelompok kelas bawah menjadikan sebagai sebagai tarekat yang diminati kelompok masyarakat kelas bawah. Dapat disimpulkan Medan dan Riau mendapat pengaruh yang kuat dari ajaran Abdussamad. Kedua wilayah ini memiliki ikatan kuat dalam menjalankan tradisi saman dalam beratib, sehingga diabadikan dalam monument. Tradisi dan kearifan lokal ikut mewarnai model pengaruh yang berkembang di wilayah ini.[]

FI/diad

Penulis: Fakhriati
Editor: Dewindah
Apakah informasi di atas cukup membantu?

TERKINI

OPINI